September 28, 2009

Ngarut dan Ngantuk

LIBURAN KALI INI GAK PRODUKTIF

Bayangin, besok mulai sekolah, sekarang jam 1.20 (berarti sekarang itu besok ya? ah whatev'), dan aku baru ngerjain PR. HAHAHAHA, senangnya... terus aku gak ada update blog (ga penting juga sih sebenernya tapi membuat saya merasa sedikit berharga), gak ada silaturahim, gak ada belanja kecuali ke J. Co (baju lebaranku baju tahun lalu yang sampe sekarang belum pernah dipake), dan pastinya gak ada olahraga whatsoever.

Ya, satu-satunya yang mendekati produktif adalah nyari-nyari info tentang ITB, bikin daftar fakultasnya lengkap sama jurusannya, terus coret yang aku gak suka. Dan dari 12 fakultas sudah 1 yang dicoret (Farmasi, gak suka bau obat), Tinggal 10 coretan lagi dan masa depan sayapun cerah.

Ya... pokoknya gitulah. Sekarang, aku harus cepet-cepet nentuin cita-cita, biar semuanya terang. Aku capek hidup madesu gini terus.

Pokoknya,

ITB

S2nya MIT

terus menang Nobel Perdamaian

terus jadi sekjen PBB

terus salaman sama Nelson Mandela

terus...

...

tidur, waktunya tidur.

August 18, 2009

Anak Muda dan Burung

Seorang muda berdiri sendirian di tengah angkasa
Berhari-hari, bulan-bulan, bertahun-tahun ia berada di titik yang sama
Kadang ia mengambil langkah, hanya untuk mundur kembalik ke tempat ia bermula
Ada seekor burung yang sudah lama memperhatikannya
Berkali-kali si burung bermigrasi, ratusan, ribuan kilometer
Namun anak muda itu tak pernah berubah
Jadi suatu hari, si burung sudah terlalu penasaran hingga ia bisa bertanya padanya:
“Sudah berkali-kali aku melewatimu namun tak pernah aku melihatmu pindah”
Lalu anak muda tersenyum, “Ya, aku sedang dalam pemikiran berat saat ini”
“Wah, tentang apa?”
“Aku tak punya arah”
“Tapi kau lihat, ada begitu banyak arah angin di depanmu, kenapa tidak pilih salah satu saja, tentunya itu akan sampai pada satu tempat”
“Ya, tapi dengan begitu aku tak akan sampai ke tempat-tempat lainnya”


...And that’s how I feel about my future.

August 05, 2009

Makanya Doa Jangan Aneh-aneh

Ga tau mau seneng atau nggak tapi doa terkabul.

Pulang-pulang nonton DBL di Samarinda udah batuk-batuk, senin selasa di sekolah cuma bisa bengong sama tiduran aja gara-gara badan lemes bukan kepayang, dari situ aku udah males banget masuk sekolah. Malem senin FB-an update status: "sedang sakit, tapi sayangnya gak parah-parah amet jadi masih bisa masuk sekolah", yang terus dicomment Ming2, dia jadi bingung katanya mau doain aku cepet sembuh atau tambah parah? Aku minta parahin aja tapi jangan parah2 amet cukup la buat ga masuk sekolah :P

Terus selasa sore aku demam parah, kepala berat, batuk-batuk sampe tenggorokan perih, enek banget pengen muntah, sengsara banget pokoknya, di kepalaku terbayang tajuk berita Kaltim Post: Siswi SMAN 1 Suspek Flu Babi. Terbayang temen2 sekelas jengukin aku, terbayang wawancara sama koran, terbayang darah saya yang ternyata imun flu babi diambil dan dijadikan vaksin bagi seluruh umat manusia.

Tapi ternyata sakitnya tak lebih dan tak kurang radang tenggorokan.

Jadi disinilah saya. Sementara temen-temen pada makan-makan syukuran DBL di sekolah yang isunya piringnya pake daun pisang. Aku makan 5 pil berbeda 3 kali sehari. Dan asemnya lagi, ternyata pilnya ampuh jadi besok udah bisa masuk sekolah disambut Ulangan Biologi. Sukses.

-Yang sedang meratapi dunia
Bina

July 04, 2009

Coraline



Image (c) 'Coraline'; original image taken from entertainmentwallpaper.com


Abis nonton filmnya aku perlu menggelengkan kepala berkali-kali dan membatinkan kata-kata buat meyakinkan aku hidup di dunia nyata, bukan di Coraline, tapi akhirnya aku sepenuhnya bangun pas aku inget sekolah 7 hari lagi (yeah, that really punch me right on the face).

Tapi kayanya nggak perlu juga, soalnya aku bahagia dengan orang tuaku tercinta :p Kenapa, soalnya akar permasalahannya: Coraline yang kurang perhatian lantaran orang tuanya sibuk kerja. Gara-gara itu, seorang penyihir asing ‘kasihan’ sama dirinya yang tidak bahagia dan ‘mengundangnya’ masuk ke dunia paralel di mana the ‘other parents’ tinggal. Terus tiap malam Coraline masuk ke sana buat ketemu sama ‘orangtua lainnya’-nya, yang jauh lebih perhatian dan menyenangkan, ibunya memasak makan malam yang lezat (ibunya yang asli nggak masak D: ), ayahnya membuatkan kebun indah dengan bunga-bunga yang bersinar, bahkan Wyborne (tetangga Coral yang cerewet) di sana jadi teman yang menyenangkan. Coraline sedih tiap dia bangun dari ‘mimpinya’, dia kembali lagi ke dunia nyata yang membosankan. Dan suatu malam, orangtua lain Coraline menawarkan untuk tinggal selamanya bersama mereka. Tapi akankah Coraline tetap senang kalau ia tahu ada rencana di balik tawaran itu??...


(Wah, tiba-tiba jadi resensi?)


Btw, Coraline disuarakan oleh aktris cilik favoritku, Dakota Fanning :D Tapi aku paling suka pas dia jadi anaknya Tom Cruise yang claustrophobic di War of the Worlds. Terus, film ini berdasarkan buku oleh Neil Gaiman, penulis ‘Stardust’ yang udah dijadiin film itu, bisa juga ya dia nulis buku anak-anak. Kalau sutradaranya… nggak ada yang aku kenal hahaha… Emang aku cuma hafal 2 sutradara di dunia ini, The Genius One Mr. Spielberg, dan Mr. … Syalahman? Shyalaman? Pokoknya itu dah yang ngebuat Lady in the Water (and other crappy movies). Oh, plus satu, Riri Riza.


(Nah sekarang malah jadi sesi pengetahuan dunia perfilman)


So yeah, akhirnya bisa nonton ini juga, hiks aku ketinggalan film-film baru gara-gara Balikpapan kota terpencil . Bahkan belum nonton Slumdog! Tak bisa dipercaya! XXI lebih milih nampilin film-film horor dengan Dewi Perssik sebagai kuntilanak, dari pada drama yang menyabet seraup Academy Awards. Aku maklum selera orang beda-beda, tapi ini di luar batas logika saya.


…Oke, guys, segitu dulu. Thanks for reading, and happy holiday for y’all.

July 01, 2009

Pengumuman... pengumuman...

Hey, lama nggak jumpa

So, mungkin beberapa dari kamu tau, beberapa yang lain belum. Aku nggak lulus tahap 3 nya, sebenernya aku nggak terkejut karena bahkan sepulang tesnya aku udah ragu, atau mungkin bahkan sebelum tes itu sendiri aku udah ragu. Kesalahanku di sini adalah kurang PD, dan aku datang dengan 'mental kalah', nggak kaya di tahap 1 dan tahap 2 yang kujalani dengan penuh harap. jadi pas aku, dan 5 peserta lainnya, tambah 3 kakak pendamping ngebuka surat dari AFS di KFC, aku buka suratnya tanpa ragu, dan keluarlah hasil yang oh-so-predicted itu, terus aku dan Acil (yang nggak lulus juga :( ) berpandangan dan berkata "Oh well", memang bener-bener kata yang tepat untuk keadaan itu, kecewa sih iya, tapi mau gimana lagi? Yang penting terus move on, maju dengan kepala tegak.

Pengumuman kedua, bagi temen-temen, maaf nggak bisa bales sms2nya soalnya hp pulsanya habis dan terlalu males buat jalan ke ruko BB buat isi lagi, besok aja ya, sekalian fotokopi buku :D Yep, temenmu ini udah memutuskan buat undur dari aksel, emang mengejutkan kali ya, mengingat AFSnya juga nggak lulus, tapi kan udah kubilang kalau ini nggak tergantung AFS, nggak tergantung rankingku. Aku udah mikir selama seminggu dan banyak kali perubahan pikiran, tapi akhirnya aku dapet secercah cahaya (lebhayy) dan ya, aku u n d u r. Emang berat buat ninggalin kalian, tapi udahla nggak seberapa jauh terpisah juga! Kita teman, oke? :D

Emang mengherankan, aku maklum kalau banyak yang nggak setuju, banyak "kenapa?", dkk. Tapi aku udah mikir mateng mateng dan serius, udah berdoa minta petunjuk udah shalat istiharah. Dan inilah pilihan saya, ini hidup saya, makasih banget buat saran ama masukannya, tapi akhirnya juga keputusan di tangan saya, bahkan ortupun nggak ada mencampur sama keinginan mereka. So yeah, saya harap anda-anda ini menghargai kuasa saya diatas hidup saya ini.

Wawa, jadi serius nih. Pokoknya gimanapun aku tetep temen kalian walau beda kelas. Jangan jadi sok nggak kenal, tetep sering jalan-jalan, curhat, dkk dll kaya sebelumnya aja ya :) Duh, aku ngebuatnya jadi perpisahan, tapi ya ampun sama sekali bukan perpisahan kok. Btw, ACnya buat kalian aja, Bina kan baik hati (rajin jajan lagi).

Jadi bisa diliat minggu ini a pretty tough week.

So, selamat menempuh hidup baru buat saya

June 22, 2009

Haru Biru Tes AFS

Yup, I'm home.

Tahap 3, hmph, sejujurnya aku ngerasa ragu sama performanceku di tahap ini, aku nggak sepede pas tahap satu dan dua. Karena dari awal juga aku sepenuhnya sadar tahap 3 bakal jadi tahap yang susah buatku. Liat aja:

tahap satu, tes wawasan dan ilmu pengetahuan, oke-oke aja namanya juga kutu buku ya lumayanlah ilmunya.

tahap dua, wawancara, dari dulu suka wawancara ngga tau kenapa :D

tahap tiga, diskusi kelompok dan interaksi sosial, ugh! mungkin kalian bilang aku rada ceriwis, tapi jujur buat orang yang ga kukenal aku bakal jadi pasif dan pemalu :/

Jadi dari Kaltim ini ada 70 orang yang ikut tahap 3, berbeda sama tahap-tahap sebelumnya, tahap 3 full kerja kelompok. Jadi dari awal kita udah dibagi-bagi jadi 10 kelompok, 1 kelompok ada 7. Aku masuk kelompok 3, bareng Szalfha dan Anintia dari SMAN 1 Samarinda, Marina dari YPK Bontang, Putri dari SMAN 1 Tenggarong, Bramantyo, dan Fulanto (Aku lupa namanya). Ya, sesi pertama diskusi, kami dapet tema "Banjir di Kaltim, permasalahan dan solusinya", diskusi didominasi Szalfha dan Bramantyo, ya, rada sedih juga bukan jadi peserta teraktif. Jadi bisa diliat aku udah agak kecewa setelah sesi ini.

Sesi ke-dua, debat. Debat ini terbuka, masih perkelompok, tapi semua boleh bersuara. Topik pertama Manohara. Karin, keliatan banget kelihaiannya di masalah ini, tanpa takut dia ngebantah suara orang kebanyakan di ruangan itu (dia pilih nggak dukung Manohara, juga nggak dukung Malaysia), You Go Girl! :) Topik ke-dua Ambalat, ini topik panas. Ada satu kelompok yang setuju Ambalat jadi wiliayah Indonesia dan Malaysia (?) jadi kita kerja sama mengolah SDA-nya. Bramantyo di tengah debat itu berdiri tegak "Ini bukan masalah aset, Bung! Ini masalah harga diri bangsa!", aku lupa seutuhnya tapi setelah dia mengutarakan argumennya seisi ruangan bertepuk tangan riuh.

Banyak argumen idealis, kuat, inspirasional, asal bunyi, sampai "out of the box", tapi seenggaknya mereka dapat kesempatan bicara. Aku dan sekitar selusin orang nggak beruntung dapat giliran, bukannya nggak usaha, lah wong dari awal aku udah punya argumen dan udah angkat tangan sampe bahu pegel, tapi aih, mata panitia nggak juga melirik. Jadilah aku makin kecewa.

Sesi tiga, aku pikir ini kesempatan terakhirku buat "stand out", kita perkelompok disuruh buat prakarya dalam waktu 30 menit. Aku nggak peduli, aku harus aktif. Jadi sementara anggota kelompok masih ngebahas ini itu, saya mulai ngeguntingin origami jadi bentuk orang-orangan. Terus aku juga ngasih ide buat nulis "Unity in Diversity" di kertas alasnya. Aku tempelin robekan sama sisa origami jadi bingkainya. Tentunya masih dibantu sama temen-temen juga, terutama Szalfha buat idenya, dan Marina yang kreatif. Akhirnya selesailah prakarya kita, bentuknya nggak jelas, haha. Tapi jangan salah, ini bermakna dalam. Potongan origaminya adalah lambang keanekaragaman budaya, bentuk hati ditengah adalah kasih sayang, persatuan, dan cinta. Tali dikepang dan disusun kaya cincin melambangkan ikatan yang kuat, dan orang-orang warna warni di sekitar hatinya melambangkan manusia yang berbeda ras, budaya, agama, gender (LOL seriously :D) Kita disuruh presentasiin karya kita ke depan. Bla bla bla, Anintia ngejelasin. Terus ditanya panitia "Kenapa di antara orang-orang ini ada jarak?", aku langsung nyerocos "ini berarti, walaupun kita manusia terpisah jarak, tapi kita masih terikat satu sama lain oleh cinta dan kasih sayang, walaupun kami berbeda pulau ataupun budaya, bla bla bla", hahaha, improvisasi.

Tes tahap 3 selesai. Senang, kecewa, dan banyak lainnya bercampur aduk. Tapi di tengah segala perasaan itu, mamaku bilang "Pokoknya apapun yang terjadi, kami bangga sama kakak", you know what, after all those doubtful moments, that's all she needs to say to ensure me that everything will be allright.

June 16, 2009

Meet Bob

Aku lulus tes AFS tahap 2, yipppiiiiiiii!!!

Dan minggu tes tahap 3... ohnooooooooo....

Serangan sakit perut kembali datang, aku takut lagi, aku nggak ada gambaran gimana tes tahap tiga itu. Terus belum apa-apa aku tadi udah heboh, panik nyari badge nama yang dibagi tes tahap dua lalu, tapi ketemu juga di balik kursi mobil :p


Btw, ulangan matiknya mantep, aku bakal loncat girang kalo dapet 5. Memang aku tau aku nggak siap gara-gara (lagi-lagi) ngebut ngerjain kesenian semalem, karena (lagi-lagi) aku
lupa tanggal deadlinenya. Ohwell.

Remedi Fisika lebih mantep lagi, sekelas cuma Lisa yang nggak her, HER massal (ngerjainnya massal juga). Jadi sementara yang berintelejensi lebih tinggi ngerjain, saya melakukan hal yang lebih berguna dengan kertas cakaran saya:


Meet BOB


June 13, 2009

Wawancara AFS

Holy, udah kira-kira 10 hari nggak internetan. Gara-gara seleksi AFS dan Ulangan Semester. Jadi sekarang saya kembali mengupdate kehidupan maya saya :D

Oh, btw, AFSnya, aku pikir aku udah melakukan yang terbaik :) Hasilnya bakal keluar besok, mungkin hari ini juga udah ada, tapi aku nggak mau. Uhhh, deg-degan juga sih... kalo misalnya nggak lulus... emmm... aku nggak ada rencana apapun kalo misalnya aku nggak lulus!! Aku baru sadar kalo di waktu menunggu keluar hasilnya ini aku selalu berangan-angan gimana nantinya kalo lulus. Mungkin aku memang optimis? haha.

Tesnya minggu kemaren, wawancara Bahasa Inggris dan Bahasa Indonesia, tau nggak, di sesi bahasa inggris, dari ratusan peserta yang ada, AKU YANG PERTAMA DIPANGGIL. %!@*#^!!!! Namun apa yang terjadi terjadilah, aku masuk ruangan, agak lega karena ternyata di ruangan itu ada sekitar 10 meja, jadi ada 10 peserta dalam ruangan.

Aku sapa, duduk, dan tersenyum kepada bapak pewawancara. Hal pertama yang dia tanya adalah motivasiku, dan aku jawab untuk cari pengalaman bla bla bla yang basi. Terus dia ngangkat alisnya! Kontan aku panik, KENAPA DIA ANGKAT ALIS??? SALAHNYA DIMANA?? Tapi aku berusaha tetap tenang, pertanyaan beralih ke impian, ke negara tujuan, ke pengetahuan umum, ke Nelson Mandela, ke Benazir Bhutto (serius, sejujurnya aku sendiri yang memancing pertanyaan2 itu), dan yadda yadda yadda, akhirnya sesi bahasa inggris selesai.

Setelah semua peserta selesai sesi bahasa inggris, mulailah sesi Bahasa Indonesia. Dan karena rolling urutan, anda bisa menebak, akulah peserta terakhirnya... Ugh, mending aku jadi peserta pertama lagi kalo tau betapa bosan, capek, dan muyeknya nunggu giliran. Di sesi indo, pertanyaan nggak jauh beda, tapi ada pertanyaan yang membutuhkan akal dan ketekadan hati.

Aku ditanya gimana kalo misalnya ada pesta terus di samping makanan haram, ada makanan halal, apakah aku akan memakannya? Aku bilang: "tidak, karena peralatan masaknya akan sama dan di Islam iu tidak diperbolehkan". Terus pewawancara nyerang lagi, gimana kalau kamu dibilang nggak sopan, Aku bilang aku bakal jelasin, terus pewawancara terus menyerang. Tapi akhirnya pertanyaannya selse dengan aku yang ngoceh soal aspek-aspek keharaman yang akan membuat ibadah kita tidak diterima. Terus ditanya gimana reaksimu ngeliat pergaulan bebas di luar sana, aku bilang "budaya akan sulit diubah, karena itu yang penting adalah kekuatan iman". Lol, entah gimana aku jadi alim. Tapi giliran ditanya "Nuzulul Qur'an kapan?" jreng jreng jreeeeng, dengan polosnya aku menjawab "maaf, saya lupa".

Yah, selain pertanyaan nuzulul qur'an kupikir pertanyaan yang lain oke-oke aja. Wish me pass this phase!

June 05, 2009

Seharusnya sih

Aku sudah packing buat ke Samarinda Sabtu-Minggu nanti
sudah mempelajari lagi tentang nuklir Korut, Taliban, Macan Tamil, dan segala isu global lalala
sudah makan siang
sudah ngerjain Remedi Bahasa
sudah nyelsein Tugas PKLH
sudah lanjutin baca webcomic langgananku
sudah latihan wawancara
sudah belajar memperkenalkan diri dalam Bahasa Arab
Dan tentunya sudah menghafal salah satu lagu daerah Kaltim

Tapi nggak,
Aku malah ketiduran.

May 20, 2009

Sebuah Resolusi?

Heran ya, belajar, udah. do'a, udah. Les, udah. Kurang apa lagi??
Udah ngerjain soal-soal tahun 1989 yang dikasih guru les, sama pilgan yang di buku cetak, lah kok lancar aja malah kadang2 ditanya temen. Eee... giliran ulangan, oke, 15 nomor awal bisa (dengan beberapa bolong), terus dari nomor 16 sampai 25 BLANK. "Dong dong dong..." cuma bisa gambar skemanya aja terus nggak tau pake rumus apa diapain bagaimana pasrah dah. Akhirnya di bagian bawah halaman terkahir kertas jawaban kutulis:

16 17 18 19 20 21 22 23 24 25 --> ga tau pak

Saking cluelessnya
. Hahahaaa....

Aduh, mau ketawa aku kalo nginget masa SMP, pas smp mau belajar mau nggak Fisika seumur-umur paling jelek 76. Bukannya mau nyombong, lah ngapain disombongin lagi? kenyatannya sekarang kalo misalnya nilaiku 76, subhanallah alhamdulillah Maha Suci Allah...

Jadi apapun yang aku lakukan selalu nggak pernah lulus Fisika, mungkinkah Fisika anti-bakatku? Hm hm, nggak tau ya, sebenernya jelek sih kalau ngeklaim sesuatu sebagai anti bakat atau apalah yang masuk daftar "Yang nggak aku bisa". Kesannya kaya nyerah duluan, atau nyari alasan. Aku sendiri lebih suka dibilang 'bekerja keras' dibanding 'berbakat', ya karena kerja keras itu sesuatu yang diraih sendiri, sementara bakat lebih kaya hadiah. Memang bakat juga harus disyukuri sebagai berkah dari Allah, tapi lantas bukan berarti hanya berpuas diri dengan hadiah itu lah.

Jadi kalo Fisika bukan anti-bakat. Apa yang harus aku lakukan, lagi, untuk ningkatin nilai Fisika ini? Sebenernya jawabannya pasti, usaha lebih keras lagi. Wah.

April 19, 2009

A Simple Hi to the World

so, here we go again ;p

Untuk sebuah postingan pertama, baiknya dibuka dengan perkenalan. Jadi blog ini punyaku, seseorang berumur 15 yang bernama Sabrina. Aku bikin blog ini gara-gara aku selalu gagal bikin diary, haha. Gak tau kenapa ya, tapi semua diaryku nggak pernah bisa bertahan sampai dua bulan. Dan gara-gara Multiply ga se-eksis Blogger, ya aku pernah bikin satu di multiply, bertahan kira-kira setahun. Tapi disamping semuanya, I'm trying to do something for people :)

Yup, that's all for now, thanks for having me,
Bina