March 27, 2010

Earth Hour-ing

So, tahun ini rumahku ikutan Earth Hour :)




Hem, aku ga peduli kata orang yang ga setuju soal pengaruh Earth Hour lalala, buatku ini cara yang menyenangkan dan simpel buat berkontribusi. Pastinya lebih berguna daripada komentar doang.


So, what did I do during the lights out? Main monopoliiiiiiii! :D hehe udah lama ga main sama adek2, asik juga walau pertamanya agak ribut gara2 Audi yang selalu berusaha matiin tiap llilin yang kunyalain. Terus kan di depan ada pengajian, banyak orang rebanaan, anak-anak lari2, lala. Nah, pas tadi matiin lampu rumahku malah didatengin bapak2, nanya apa listriknya turun terus nawarin nyalain lagi, duh.

Ini juga Earth Hour pertama buat Audi si kecil, dan dia kayanya belum ngerti konsepnya, jadi pas dia kebelet: "Mo pipis ah", ngeloyor, cetek nyalain lampu kamar mandi.

Tapi jujur lampu halaman belakang ga kumatiin, takut :P

But anyway, that was fun! Moga tahun depan bisa gini lagi.

Happy Earth Hour, people!


March 17, 2010

Sesuatu Telah Hilang

Aku tak tahu denganmu, tapi aku merasakan sesuatu telah hilang. Mungkin kita tampak bahagia dengan senyum di wajah dan tawa membahana. Tapi ada kehampaan di dalam sini. Semua orang memakai topeng. Semua kata terbungkus rapi. Semua, adalah kebahagiaan yang dangkal, yang cepat terlupakan dan menimbulkan kesendirian.

Aku tidak bahagia, tidak sedih, tidak marah. Hanya rasa bosan. Perasaan mengerikan seakan jantungmu berhenti berdetak dan lubang besar menganga tumbuh menggantikannya. Tanpa sadar aku sudah menjadi seseorang dengan tatapan mata yang datar dan berlapis.

Tapi kamu juga melakukan hal yang sama, kan?

March 11, 2010

I Just Wanna Live as I Am

Hi :)

Hehe, belakangan ini aktif ngepost ya, lagi mid semester sih. (loh? loh?)

Tadi pas main looklet, mama tiba2 datengin sambil nanya:

"Kakak mau jadi desainer ya?"

"hah? ya enggak lah mam, ini iseng aja, biasalah anak cewek hoho".

"Oh... ayah udah pusing lo pas liat kakak main ini, katanya udah capek banting tulang kerja ujung-ujungnya kakak mau jadi desainer"

"..."



Tau nggak, satu hal yang kubingungin dari ortuku. Ayah selalu bilang kalau aku boleh jadi apa aja, terserah, whatever you want, etc etc. Tapi di belakang, sama mama, ayah bakal 'curhat' soal kekecewaannya pas aku ungkapin satu minat. Terus mama curhat ke aku. Kadang aku mikir mungkin mama bohong. Soalnya yang ngebet pengen aku masuk perminyakan kan mama.

Aku agak ngerti. Ayah emang sayang banget sama aku, kaya setiap ayah buat putri pertamanya, makanya ayah gak mau nyakitin perasaanku, yang memang gak pernah. Jadi ayah bilang "terserah kamu mau jadi apa", padahal ayah punya banyak keberatan di sana sini.

Sedangkan. Mama dulu lahir di keluarga pedagang, ekonominya naik turun. Makanya mama gak mau aku susah. Mama sayang aku dan walau mama juga bilang "terserah kamu aja", tapi kalimat belakangnya pasti "tapi, kak, perminyakan itu bagus banget lo kesempatannya" ato "mama juga pernah seidealis kamu, tapi akhirnya kamu harus mikir duit, makanya perminyakan..."

Terus aku sampe di fase. "Aku gak mau ngomongin apa-apa soal masa depan, biar aja mereka kebingungan, nanti juga akhirnya perminyakan"

Kukira kuliah akhirnya aku bisa bener2 nentuin jalan hidup. Aku gak mau terikat uang. Oke, uang juga penting, tapi aku gak mau hidupku berputar di uang terus.

Aku pengen susah. Pengen ngerasain hidup. Pengen berjuang. Sejak lahir udah ditempatin di lingkungan nyaman. Akhirnya aku pengen keluar, nyatu sama dunia, sama orangnya, belajar, berteman, berkontribusi. Aku gak mau hidupku cuma di batas lingkaran aman aja...

Pokoknya aku cuma pengen hidup sebagai diriku sendiri. Gitu aja. Aku juga anak yang gak bodoh kok, aku juga mikir, walau kubilang pengen susah, aku bukannya mau jadi pengemis yang bikin malu keluarga. Cukup beberapa waktu biar aku bisa memperjuangkan hidup. Apa itu buruk ma, pa?

...

Hmph. Andai aja ngomong sama orang tua segampang nulis di blog, ya.

March 09, 2010

This Funny Feeling Inside...

Kadang aku teringat masa-masa dulu, rasanya ingin tertawa dan menangis sekaligus. Kalau bisa aku pengen mengulangnya lagi, tertawa sepuluh kali lebih keras, menangis sepuas-puasnya, mencintai lebih dalam, menghargai setiap kenangan, dan akhirnya merengkuh detik itu dan menguncinya di peti. Kalau-kalau aku lupa bagaimana rasanya.

Tapi waktu berjalan.

Kenangan baru mengisi. Kenangan lama memudar. Wajah silih berganti. Ikatan melonggar. Namun wajah mereka akan tetap terpatri, bukan hanya sebatas kenangan, tapi sebagai kawan hidup, semua ajaran mereka, bimbingan, dukungan. Akan selalu mengiringi, hingga mati kuharap.

Karena waktu adalah hadiah

“Sayang bila kenangan saat ini hilang karena kita terpaku masa lalu… hal yang menyenangkan itu bukan untuk diperbandingkan. Hal yang kini kita rasa menyenangkan hanya bisa kita nikmati sepenuhnya saat ini. Karena itu, hargailah setiap momen indah dan waktu saat ini.”*

Tidak salah untuk merasa bahagia, siapapun itu disampingmu. Karena detik ini hanya akan terjadi di detik tadi. Tak ada pengulangan sama sekali.

Jadi, tertawalah sekeras-kerasnya!


*Aria vol. 12