June 13, 2009

Wawancara AFS

Holy, udah kira-kira 10 hari nggak internetan. Gara-gara seleksi AFS dan Ulangan Semester. Jadi sekarang saya kembali mengupdate kehidupan maya saya :D

Oh, btw, AFSnya, aku pikir aku udah melakukan yang terbaik :) Hasilnya bakal keluar besok, mungkin hari ini juga udah ada, tapi aku nggak mau. Uhhh, deg-degan juga sih... kalo misalnya nggak lulus... emmm... aku nggak ada rencana apapun kalo misalnya aku nggak lulus!! Aku baru sadar kalo di waktu menunggu keluar hasilnya ini aku selalu berangan-angan gimana nantinya kalo lulus. Mungkin aku memang optimis? haha.

Tesnya minggu kemaren, wawancara Bahasa Inggris dan Bahasa Indonesia, tau nggak, di sesi bahasa inggris, dari ratusan peserta yang ada, AKU YANG PERTAMA DIPANGGIL. %!@*#^!!!! Namun apa yang terjadi terjadilah, aku masuk ruangan, agak lega karena ternyata di ruangan itu ada sekitar 10 meja, jadi ada 10 peserta dalam ruangan.

Aku sapa, duduk, dan tersenyum kepada bapak pewawancara. Hal pertama yang dia tanya adalah motivasiku, dan aku jawab untuk cari pengalaman bla bla bla yang basi. Terus dia ngangkat alisnya! Kontan aku panik, KENAPA DIA ANGKAT ALIS??? SALAHNYA DIMANA?? Tapi aku berusaha tetap tenang, pertanyaan beralih ke impian, ke negara tujuan, ke pengetahuan umum, ke Nelson Mandela, ke Benazir Bhutto (serius, sejujurnya aku sendiri yang memancing pertanyaan2 itu), dan yadda yadda yadda, akhirnya sesi bahasa inggris selesai.

Setelah semua peserta selesai sesi bahasa inggris, mulailah sesi Bahasa Indonesia. Dan karena rolling urutan, anda bisa menebak, akulah peserta terakhirnya... Ugh, mending aku jadi peserta pertama lagi kalo tau betapa bosan, capek, dan muyeknya nunggu giliran. Di sesi indo, pertanyaan nggak jauh beda, tapi ada pertanyaan yang membutuhkan akal dan ketekadan hati.

Aku ditanya gimana kalo misalnya ada pesta terus di samping makanan haram, ada makanan halal, apakah aku akan memakannya? Aku bilang: "tidak, karena peralatan masaknya akan sama dan di Islam iu tidak diperbolehkan". Terus pewawancara nyerang lagi, gimana kalau kamu dibilang nggak sopan, Aku bilang aku bakal jelasin, terus pewawancara terus menyerang. Tapi akhirnya pertanyaannya selse dengan aku yang ngoceh soal aspek-aspek keharaman yang akan membuat ibadah kita tidak diterima. Terus ditanya gimana reaksimu ngeliat pergaulan bebas di luar sana, aku bilang "budaya akan sulit diubah, karena itu yang penting adalah kekuatan iman". Lol, entah gimana aku jadi alim. Tapi giliran ditanya "Nuzulul Qur'an kapan?" jreng jreng jreeeeng, dengan polosnya aku menjawab "maaf, saya lupa".

Yah, selain pertanyaan nuzulul qur'an kupikir pertanyaan yang lain oke-oke aja. Wish me pass this phase!

No comments:

Post a Comment