Yup, I'm home.
Tahap 3, hmph, sejujurnya aku ngerasa ragu sama performanceku di tahap ini, aku nggak sepede pas tahap satu dan dua. Karena dari awal juga aku sepenuhnya sadar tahap 3 bakal jadi tahap yang susah buatku. Liat aja:
tahap satu, tes wawasan dan ilmu pengetahuan, oke-oke aja namanya juga kutu buku ya lumayanlah ilmunya.
tahap dua, wawancara, dari dulu suka wawancara ngga tau kenapa :D
tahap tiga, diskusi kelompok dan interaksi sosial, ugh! mungkin kalian bilang aku rada ceriwis, tapi jujur buat orang yang ga kukenal aku bakal jadi pasif dan pemalu :/
Jadi dari Kaltim ini ada 70 orang yang ikut tahap 3, berbeda sama tahap-tahap sebelumnya, tahap 3 full kerja kelompok. Jadi dari awal kita udah dibagi-bagi jadi 10 kelompok, 1 kelompok ada 7. Aku masuk kelompok 3, bareng Szalfha dan Anintia dari SMAN 1 Samarinda, Marina dari YPK Bontang, Putri dari SMAN 1 Tenggarong, Bramantyo, dan Fulanto (Aku lupa namanya). Ya, sesi pertama diskusi, kami dapet tema "Banjir di Kaltim, permasalahan dan solusinya", diskusi didominasi Szalfha dan Bramantyo, ya, rada sedih juga bukan jadi peserta teraktif. Jadi bisa diliat aku udah agak kecewa setelah sesi ini.
Sesi ke-dua, debat. Debat ini terbuka, masih perkelompok, tapi semua boleh bersuara. Topik pertama Manohara. Karin, keliatan banget kelihaiannya di masalah ini, tanpa takut dia ngebantah suara orang kebanyakan di ruangan itu (dia pilih nggak dukung Manohara, juga nggak dukung Malaysia), You Go Girl! :) Topik ke-dua Ambalat, ini topik panas. Ada satu kelompok yang setuju Ambalat jadi wiliayah Indonesia dan Malaysia (?) jadi kita kerja sama mengolah SDA-nya. Bramantyo di tengah debat itu berdiri tegak "Ini bukan masalah aset, Bung! Ini masalah harga diri bangsa!", aku lupa seutuhnya tapi setelah dia mengutarakan argumennya seisi ruangan bertepuk tangan riuh.
Banyak argumen idealis, kuat, inspirasional, asal bunyi, sampai "out of the box", tapi seenggaknya mereka dapat kesempatan bicara. Aku dan sekitar selusin orang nggak beruntung dapat giliran, bukannya nggak usaha, lah wong dari awal aku udah punya argumen dan udah angkat tangan sampe bahu pegel, tapi aih, mata panitia nggak juga melirik. Jadilah aku makin kecewa.
Sesi tiga, aku pikir ini kesempatan terakhirku buat "stand out", kita perkelompok disuruh buat prakarya dalam waktu 30 menit. Aku nggak peduli, aku harus aktif. Jadi sementara anggota kelompok masih ngebahas ini itu, saya mulai ngeguntingin origami jadi bentuk orang-orangan. Terus aku juga ngasih ide buat nulis "Unity in Diversity" di kertas alasnya. Aku tempelin robekan sama sisa origami jadi bingkainya. Tentunya masih dibantu sama temen-temen juga, terutama Szalfha buat idenya, dan Marina yang kreatif. Akhirnya selesailah prakarya kita, bentuknya nggak jelas, haha. Tapi jangan salah, ini bermakna dalam. Potongan origaminya adalah lambang keanekaragaman budaya, bentuk hati ditengah adalah kasih sayang, persatuan, dan cinta. Tali dikepang dan disusun kaya cincin melambangkan ikatan yang kuat, dan orang-orang warna warni di sekitar hatinya melambangkan manusia yang berbeda ras, budaya, agama, gender (LOL seriously :D) Kita disuruh presentasiin karya kita ke depan. Bla bla bla, Anintia ngejelasin. Terus ditanya panitia "Kenapa di antara orang-orang ini ada jarak?", aku langsung nyerocos "ini berarti, walaupun kita manusia terpisah jarak, tapi kita masih terikat satu sama lain oleh cinta dan kasih sayang, walaupun kami berbeda pulau ataupun budaya, bla bla bla", hahaha, improvisasi.
Tes tahap 3 selesai. Senang, kecewa, dan banyak lainnya bercampur aduk. Tapi di tengah segala perasaan itu, mamaku bilang "Pokoknya apapun yang terjadi, kami bangga sama kakak", you know what, after all those doubtful moments, that's all she needs to say to ensure me that everything will be allright.
No comments:
Post a Comment