Mengejar kebahagiaan.
Kata-kata yang tertulis di Deklarasi Kemerdekaan USA, yang juga dielu-elukan 6 milyar manusia. Mungkin karena dunia ini makin ramai dan ramai tapi kita malah makin merasa sepi. Mungkin, kebahagiaan bisa nyembuhin luka kita, jawab pertanyaan-pertanyaan kita, menggariskan apa yang hitam apa yang putih.
Tapi gimana kalo. Kebahagiaan itu cuma kaya narkotik. Nikmat, iya sih, tapi jadi kecanduan dan kamu mau ngelakuin apa aja buat bisa nenggak itu lagi? Kamu berbohong. Kamu membunuh. Kamu korupsi. Kamu minta Xanax sama doktermu. Pertama denger Xanax aku pengen ketawa. Ampun, segitu gilanya kah dunia ini sampai ketidakbahagiaan pun bisa diobati sama pil?
Btw, kenapa sih kita takut banget sama ketidakbahagiaan?
Karena dia membawa hal-hal buruk, iya. Tapi kesedihan juga sumber inspirasi tak terbatasnya seniman-seniman terbesar dunia. Beethoven, van Gogh, Galileo... Iya, bahagia bisa ngebuat kita pengen menari, tertawa, jadi spontan. Tapi dengan sedih kita merenung, menghargai, belajar.
Sedih dan senang itu kekuatan yang besar. Tapi mereka kaya pisau, Potongannya untuk seorang ibu adalah makanan yang hangat dan penuh kasih sayang untukmu. Tapi psikopat menggunakannya untuk hal-hal paling mengerikan yang bisa kamu bayangkan.
Sedih dan senang itu pasangan. Kalau terlalu terpaku sama satunya, semuanya kacau. Hey, jadi manusia emang harus bahagia dan menyebarkan kebahagiaan. Tapi jangan menolak sedih karena sebenernya itu cuma seorang bijak yang menegurmu supaya ga buta oleh euforia dunia fana.
Karena Bambi bilang:
“The colder the winter, the warmer the summer”
>>> Barusan baca review buku “Against Happiness” (Eric G. Wilson) dan aku bener-bener tertarik sama idenya! Selama ini kebahagiaan itu tujuan umat manusia, dan makanya hal-hal yang nggak membahagiakan memalukan dan patut dihindari, orang-orang mati-matian berterapi, nenggak pil, ikut workshop, baca buku-buku, sampe mensahkan segala cara untuk mengobati kesedihan kaya kesedihan itu penyakit berbahaya. Penulisnya udah muak sama sistem kecanduan kebahagiaan ini dan tiba-tiba dia tertegun, Kenapa gak sambut aja kesedihan? Buku yang jujur. Berencana buat hunting bukunya pas ke Bandung nanti :)

No comments:
Post a Comment